Jumat, 26 April 2019

Potensi Besar Perikanan Tangkap di Indonesia

Indonesia sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki luas lautan sekitar 5,8 juta km², pesisir, dan pulau-pulau kecil yang luas dan bermakna strategis sebagai pilar pembangunan ekonomi nasional. Selain memiliki nilai ekonomis, sumber daya kelautan juga mempunyai nilai ekologis. Di samping itu, kondisi geografis Indonesia terletak pada geopolitis yang strategis, yakni antara lautan Pasifik dan lautan Hindia yang merupakan kawasan paling dinamis dalam arus percaturan politik, pertahanan, dan kemanan dunia. Kondisi geo-ekonomi dan geo-politik tersebut menjadikan sektor kelautan sebagai sektor yang penting dalam pembangunan nasional.
Khusus untuk perikanan tangkap potensi Indonesia sangat melimpah sehingga dapat diharapkan menjadi sektor unggulan perekonomian nasional. Untuk itu potensi tersebut harus dimanfaatkan secara optimal dan lestari, Tugas ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan pemilik usaha guna meningkatkan pendapatan masyarakat dan penerimaan negara yang mengarah pada kesejahteraan rakyat.

Minggu, 21 April 2019

Hanya Ada Satu Laut. Inilah Saat yang Tepat untuk Menyelamatkannya.



Pekan ini para pemimpin dunia bertemu untuk membicarakan bagaimana kita dapat mengatasi krisis laut global. Pertemuan ini berlangsung di Indonesia, sebuah negara maritim yang sangat bergantung pada laut, namun juga harus menghadapi berbagai tantangan.
Sekitar 266 juta penduduk Indonesia hidup berdampingan di atas hamper seribu pulau. Lebih dari setengah kebutuhan protein hewani mereka didapatkan dari ikan dan makanan laut. Bahkan, sebanyak 2,8 juta keluarga menggantungkan mata pencahariannya pada industri komoditas laut. Kepulauan Indonesia merupakan bagian dari Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) yang memiliki lebih dari tiga perempat total spesies terumbu karang dunia dan lebih dari sepertiga spesies ikan yang hidup di terumbu karang di dunia. Indonesia juga tercatat memasok sekitar 10 persen keseluruhan komoditas laut global. Namun, penangkapan ikan berlebih (overfishing) dan jumlah ikan yang menurun mengancam keberlangsungan perdagangan hasil laut dan mata pencaharian penduduk Indonesia. Menurut perkiraan, Indonesia juga merupakan kontributor sampah plastik laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok.

Strategi Apa untuk Tingkatkan Produksi Perikanan Budidaya di 2018?



Tidak seperti 2017, Kementerian Kelautan dan Perikanan memberi target signifikan untuk sektor perikanan budidaya pada 2018. Tak tanggung-tanggung, di tahun mendatang tersebut, produksi ditargetkan bisa melambung ke angka 24,08 juta ton atau naik hampir 3 juta ton dari 2017 yang ditarget mencapai 22,46 juta ton.
Bagi KKP, target tersebut sudah rasional dan diperhitungkan dengan matang. Setidaknya, hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto di Jakarta, awal pekan ini. Menurut dia, dengan target yang sudah ditetapkan, pihaknya akan bekerja keras melaksanakan program kerja di seluruh Indonesia.
“Tentu saja, didukung oleh anggaran yang besar,” ucap dia.
Anggaran besar yang dimaksud Slamet, adalah anggaran yang dikucurkan dari Pemerintah untuk KKP sebesar Rp7,28 triliun dan Rp944,8 miliar di antaranya dikucurkan untuk Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB). Anggaran yang besarnya hampir Rp1 triliun itu, diakui dia cukup untuk menggeber berbagai program dari Sabang hingga Merauke sepanjang 2018 mendatang.
Dari dana yang didapat tersebut, Slamet menjelaskan, 68 persen di antaranya akan digunakan untuk program yang sifatnya prioritas, 8 persen untuk program pendukung, dan 24 persen untuk program rutin. Untuk progam prioritas yang akan digeber nanti, diantaranya adalah kegiatan perbenihan, produksi dan usaha budidaya, pakan dan obat, serta operasional perkantoran dan dukungan manajemen.
“Untuk target produksi, kita tetapkan 7,91 juta ton ditargetkan berasal dari produksi budidaya perikanan dan 16,17 juta ton dari rumput laut,” tutur dia.
Di antara program yang akan dilaksanakan tersebut, Slamet menyebut, pihaknya akan membangun pabrik pakan ikan dan embung di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Pembangunan tersebut, akan menelan anggaran masing-masing sebesar Rp14,8 miliar dan Rp14,16 miliar.
Pemilihan Pangandaran yang merupakan tempat asal Susi Pudjiastuti itu sebagai salah satu lokasi program prioritas, menurut Slamet, adalah karena daerah tersebut dinilai punya potensi ganda yang sama baiknya, yakni potensi untuk air payau dan sekaligus air tawar. Dengan potensi tersebut, maka sangat dimungkinkan untuk menjalankan program perikanan budidaya dan tangkap sekaligus.
“Dari sisi lautnya, itu sangat dimungkinkan untuk KJA (keramba jaring apung) lepas pantai. Kemudian, di sana juga dekat dengan daerah pertanian,” jelas dia.

Susi Bidik 24 Juta Ton Produksi Budidaya Ikan Tahun Depan

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menganggarkan Rp 944,85 miliar untuk Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya tahun depan. Jumlah anggaran tersebut sesuai dengan isi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) APBN 2018 yang telah diberikan olehnya kepada Dirjen Perikanan Budidaya Slameg Soebjakto hari ini.
Berdasarkan data Ditjen Perikanan Budidaya, anggaran sebesar Rp 944,85 miliar tersebut akan digunakan 68% di antaranya untuk kegiatan prioritas, 8% untuk kegiatan pendukung dan 24% untuk kegiatan rutin. 
Dari anggaran sebesar Rp 944,85 miliar tersebut, Ditjen Perikanan Budidaya menargetkan produksi perikanan budidaya tahun depan sebesar 24,08 juta ton, dengan rincian 7,91 juta ton untuk produksi budidaya perikanan dan 16,17 juta ton untuk rumput laut.